Monday, November 2, 2015

9 Ilmu Berharga dari Steve Jobs


Dunia mungkin tidak akan menyangka kalau seorang Steve Jobs yang hanya berstatus sebagai mahasiswa drop out dari sebuah universitas non unggulan di Amerika Serikat, Reed College, ternyata mampu mengubah dunia. Yup, mengubah dunia. Siapa yang bisa menduga bahwa industri rekaman di Amerika Serikat bahkan dunia ternyata bisa digoyang oleh Apple dengan ekosistem iTunes-nya. Lantas siapa pula yang bisa menerka kalau ternyata ponsel buatan Apple yang full berbasis sentuhan ternyata mampu merusak kenyamanan Blackberry dan Nokia di pentas perdagangan ponsel di seluruh dunia. Dan satu lagi, sampai tahun 2010, mungkin masih banyak orang atau bahkan pakar IT yang tidak percaya bahwa konsumen akan membutuhkan sesuatu yang disebut komputer tablet. Well, siapa yang berani menyangkal kesuksesan perusahaan berlogo “buah apel plus gigitan” ini kalau sampai saat ini saja  iPad dan iPad 2 ternyata mampu memberikan pemasukan sebesar tidak kurang dari 10 miliar dollar ke dalam kas Apple.
Semua orang percaya bahwa kesuksesan Apple selaku perusahaan IT tidak bisa dilepaskan dari tangan dingin pendiri sekaligus CEO-nya, Steve Jobs. Perfeksionis dan visioner dalam bidangnya adalah dua diantara sekian banyak karakter unik Steve yang diyakini mampu mendongkrak Apple hingga bisa mencapai tahta seperti saat ini. Melalui tulisan ini, penulis mencoba untuk memaparkan cara Steve memimpin perusahaan dan karyawan-karyawannya. Penulis berharap, pembaca pengusaha muslim yang kebetulan juga menyimpan kekaguman kepada tokoh yang satu ini bisa mengambil hikmah dan pelajaran untuk kemudian mengimplementasikannya ke dalam perusahaan ataupun bisnis masing-masing. Selamat menikmati. Bismillah …
1. Detil itu penting
Pernah suatu pagi di hari Minggu pada tahun 2008, Vig Gundotra, salah satu petinggi Google, pernah dihubungi oleh Steve Jobs. Vic mungkin agak terkejut. Ia menyangka kalau Steve mungkin menghubunginya untuk sesuatu yang sangat penting, eh ternyata ia keliru. Sang pendiri Apple ternyata cuma ingin meminta izin kepada Vic supaya ia mau diajak berdiskusi untuk perubahan gradasi warna kuning pada huruf O kedua dalam logo Google yang ditampilkan di iPhone.
2. Misterius itu bagus
Anda pernah tahu apa yang terjadi pada para penggemar Apple di detik-detik menjelang peluncuran iPhone pada tahun 2007 lalu? Mereka sangat-sangat penasaran. Mereka dibuat deg-degan atas apa yang nantinya bakal dipresentasikan dan didemokan oleh Steve Jobs di atas panggung. Mereka masih tidak habis pikir, apakah bisa sebuah perusahaan yang sebelumnya hanya membuat komputer, laptop, dan pemutar musik bisa membuat sebuah telepon genggam? Di saat dunia tampaknya sudah tidak butuh telepon lagi mengingat ketatnya persaingan yang sudah terjadi di antara vendor-vendor ponsel saat itu seperti Nokia, Samsung, RIM, Sony Ericcson, Motorola, LG, dan sebagainya. Bisakah Apple sukses? Ataukah jangan-jangan produk ini justru nantinya bisa membuat Apple bangkrut? Bukankah membuat smartphone bukan keahlian Apple? Kenapa tidak? Mungkin itulah yang diutarakan oleh Steve Jobs.
Dan itulah gunanya “misteri”. Untuk urusan menjaga kerahasiaan produk, mungkin Apple adalah salah satu yang terbaik, kalau tidak boleh dibilang terbaik. Betapa tidak? Seluruh karyawan Apple, mulai dari CEO-nya sendiri sampai ke tingkat pegawai level menengah ke bawah secara kompak menjaga kerahasiaan produk mereka yang belum diperkenalkan. Betul bahwa biasanya ada bocoran informasi dari pihak internal Apple kepada pihak luar, tetapi bocoran itu justru membuat pengguna dan pecinta Apple tambah penasaran saja. Apa sebab? Karena yang dibocorkan adalah informasi umum tentang produk itu, tapi tidak tentang spesifikasinya, detil fiturnya, apa warnanya, dan sejenisnya. Jadi ketika iPhone hendak diluncurkan, seluruh dunia tahu bahwa Apple nanti akan meluncurkan sebuah telepon genggam, tapi mereka belum tahu kalau ternyata telepon genggam itu adalah sesuatu yang bisa sekeren dan serevolusioner iPhone.
3. Jual mahal kalau memang “mahal”
Dari seluruh produk Apple, jarang sekali kita temui produk yang menjadi “murahan” di kelasnya. Susah mencarinya, bahkan mungkin tidak ada dan jangan-jangan tidak akan pernah ada. Di kelas tablet PC, iPad dan iPad 2 adalah produk kelas atas. Begitu pula untuk smartphone, iPhone adalah ponsel harga pejabat yang digunakan oleh hampir semua kalangan (sampai saat tulisan ini dibuat, sudah 100 juta lebih yang terjual). Di jajaran pemutar musik, iPod masih termasuk pemimpin pasar.
Dari cara Steve dan Apple membanderol dagangannya, kita jadi bisa menyimpulkan bahwa tidak selamanya konsumen akan selalu menjatuhkan pilihan pada produk yang harganya jauh lebih murah. iPad, iPod, iPhone, MacBook, dan iMac adalah contoh betapa mahalnya harga ternyata tidak berbanding lurus dengan turunnya angka penjualan. Sebagai konsumen Apple ataupun mereka yang sering bersentuhan dengan pecinta Apple, kita diberi tahu bahwa kualitas dan nilai lebih dari suatu produk adalah “harta terbesar” dari produk itu sendiri.
4. Cukup satu atau dua warna saja
Steve bersama Apple-nya memang keren, ketika vendor-vendor lain sibuk memikirkan warna apa yang cocok untuk produk mereka (merah, merah kehitam-hitaman, pink, biru, biru muda, abu-abu, perak, hijau, dan lainnya), mereka justru hanya menyediakan sedikit pilihan warna saja untuk para penggunanya. Bila Anda perhatikan dengan seksama, umumnya produk-produk Apple memang tidak memiliki banyak pilihan warna (kecuali iPod). iPhone hanya dirilis dalam dua warna; hitam dan putih. Begitu pula dengan iPad dan Macbook. Bahkan untuk iMac tampaknya Apple hanya menyediakan satu warna saja, putih.
Dari sini kita bisa belajar bahwa terkadang memang sebaiknya kita tidak usah terlalu banyak menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak terlalu penting. Jadi alih-alih pusing dengan pilihan warna (yang biasanya tidak terlalu sulit untuk dikerjakan dan diselesaikan), kenapa kita tidak memikirkan hal-hal yang satu atau beberapa level lebih penting ketimbang warna. Kualitas bahan misalnya. User experience ataukah. Dan seterusnya. Dan seterusnya. Ada begitu banyak hal penting yang harus Anda pikirkan terkait produk Anda. Warna memang salah satunya, tapi jangan terlalu banyak memusingkan soalnya.
5. Pilihlah pegawai yang sebaik atau bahkan lebih baik ketimbang Anda
Suatu hari di tahun 1996, Steve pernah diwawancarai oleh reporter NPR, Terry Gross, terkait Apple corporate life style (baca: nilai-nilai perusahaan Apple). Steve dengan gamblang menjelaskan bahwa satu hal yang membedakan Apple dengan perusahaan besar lainnya adalah pada cara Apple merekrut pegawai-pegawainya. Menurut Steve, umumnya perusahaan besar merekrut pegawai yang nantinya bisa mereka suruh-suruh (to tell them what to do), tapi di Apple malah sebaliknya. Pegawai yang mereka rekrut adalah tipikal orang-orang yang justru bisa memberi tahu apa yang seharusnya bisa dilakukan oleh Apple ke depan.
6. Berani unjuk gigi
Ketika Steve sedang di atas panggung, hampir semua orang menunggu-nunggu dengan penuh penasaran aksinya dalam mendemokan produk atau fitur dari sebuah produk. Dan inilah sesuatu yang ternyata jarang sekali dilakukan oleh CEO-CEO lain. Keberanian dan semangat menyala-nyala seperti yang ditunjukkan oleh Steve saat mendemokan produk-produk Apple adalah sebuah bukti tak terbantahkan atas besarnya minat dan cinta seorang manusia kelahiran tahun 1955 ini terhadap perusahaan dan tim yang berada di balik peluncuran produk itu sendiri.
7. Dunia tidak perlu konsep, dunia butuh produk yang nyata
Ingat di tahun 2007 ketika iPhone muncul, saat itu, iPhone bukanlah smartphone dengan spesifikasi tertinggi. Kameranya hanya 2MP, konektivitasnya tidak didukung dengan teknologi 3G, dan masih banyak lagi kekurangan iPhone dibandingkan produk lain besutan Blackberry, Nokia, ataupun Samsung. Tapi Apple tetap melaju, mereka benar-benar menjual produk mereka, yang meskipun banyak memiliki kekurangan, tetapi tetap datang dengan beberapa fitur dan teknologi revolusioner seperti satu-satunya smartphone nyata (baca: bukan konsep atau sebatas prototype saja) pertama yang dijual tanpa keypad. Plus ditambah satu lagi, Apple juga memperkenalkan iPhone App Store ke seluruh dunia. Dengan dua fitur ini saja, iPhone sudah dianggap sebagai penyebab berubahnya lansekap jagat smartphone saat itu, juga saat ini.
Pengaruh iPhone atau produk-produk Apple lainnya tampak jelas. Sebelum iPhone, tidak ada satupun vendor yang berani menjual ponselnya ke publik tanpa keypad sungguhan. Sebelum Apple, vendor-vendor masih skeptis dan bersikap wait and see ketika hendak merilis produk di kelas tablet computer. Mereka takut akan merugi karena sistem operasi dan processor yang tersedia di pasaran saat itu tidak cukup bagus untuk mendukung komputasi jenis ini.
8. Apa itu visioner? Jangan lakukan riset pasar!
Menurut Steve Jobs, konsumen cenderung untuk menuntut produk-produk baru yang bersifat “lebih”. Dalam artian, “lebih murah”, “lebih cepat”, dan “lebih baik”. Kalau sudah begini, ruang untuk sebuah evolusi maupun revolusi produk mungkin malah agak tertutup. Jadi alih-alih mendengarkan konsumen secara membabi buta, Steve Jobs justru lebih menyukai jalan lainnya, yaitu “bikin saja dulu produknya, biar nanti konsumen melihat dan mencobanya. lalu perhatikan apa yang terjadi”.
Teknik ini adalah sesuatu yang masuk akal juga bukan? Bukankah ketika dunia dikerumuni oleh para pengguna MS-DOS, pasar cenderung menuntut sebuah OS (baca: sistem operasi) baru yang mungkin lebih baik ketimbang MS-DOS, bisa berlari lebih cepat ketimbang MS-DOS, dan bahkan kalau bisa dengan banderol harga yang lebih murah. Kalau saja Steve Jobs menuruti kehendak pasar saat itu, mungkin Mac OS yang kita kenal sekarang bukanlah Mac OS X dengan GUI (graphical user interfacae) yang fantastis, yang datang dengan perangkat revolusioner seperti mouse yang saat itu merupakan sesuatu yang benar-benar baru.
9. Tidak apa-apa kok jadi CEO yang plin-plan
Steve Jobs sendiri mencontohkannya. Pernah suatu kali, Steve berargumen bahwa Apple tidak seharusnya mendorong tumbuh suburnya App khusus (seperti yang saat ini tersedia dalam jumlah ratusan ribu di Apple app store) yang akan menyebabkan berkurangnya frekuensi pengguna mereka dalam menggunakan Safari, browser besutan Apple sendiri di smartphone revolusioner mereka, iPhone. Di samping itu, Steve juga cenderung sangat khawatir dengan app karena pengguna hampir pasti tidak akan bisa mengontrol dengan baik apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh sebuah app terhadap data mereka.
Well, itu sih awalnya. Tapi dalam rentang waktu yang tidak lama setelah peluncuran iPhone untuk pertama kalinya, Steve Jobs akhirnya berubah. Pria yang sebelumnya lebih mendukung pemanfaatan Safari web app, kini justru lebih memihak ke app khusus. Dan cerita selanjutnya adalah sejarah manis untuk Apple. Dengan prinsip 70:30, Apple bisa ikut menimba emas sebanyak 30% dari setiap penjualan app khusus di Apple App Store yang dibuat oleh developer-developer independen dari seluruh dunia. Bila Apple sendiri mengklaim bahwa mereka sudah membayar $US 2 miliar untuk developer iOS, itu berarti mereka setidaknya mengantongi kurang lebih $US 800 juta (857.142.857). Wow, jumlah yang tidak buruk untuk biaya operasional sekaligus ongkos beli bandwith dan server milik Apple.


Sumber artikel ini diambil dari web gerobak unik jakarta

Sunday, November 1, 2015

Modal Menjadi Pengusaha Ala Aa Gym


Dahulu, ustadz hanya dikenal hebat dalam  dakwahnya saja. Tapi tahukah anda bahwa ada seorang ustadz yang pandai berdakwah dan juga hebat berbisnis. KH. Abdullah Gymnastiar, atau yang sering kita dengar dengan panggilan Aa Gym, merupakan salah satu tokoh kebanggan kita (umat Islam), khususnya saya pribadi. Karena selain menjadi seorang Da'i atau penceramah yang cukup fenomenal, Beliau juga berhasil menorehkan namanya sebagai pengusaha yang sukses. Bakatnya menjadi pengusaha ini, memang sudah terlihat sejak beliau masih kecil, bahkan sejak TK, Berdasarkan ceritanya, waktu masih kecil, beliau pernah menjualkan jambu tetangga, pernah juga berjualan petasan, pernah berjualan buku, jadi sopir angkot, jadi tukang bakso, dll. Sebenarnya, orang tua Aa Gym termasuk keluarga mampu, hanya saja Aa gym tidak mau selalu menjadi tanggungan orang tuanya. Beliau ingin hidup mandiri. Bahkan berdasarkan cerita teman-temannya, ketika orang lain kuliah dengan menghabiskan uang orang tuanya, beliau justru bisa membeli membeli mobil. Ketika teman-temannya pergi menggunakan motor pemberian orang tuanya, Beliau mengunakan motor hasil jerih payahnya sendiri. Bahkan pada saat kuliah, konon katanya, beliau lebih dikenal sebagai pengusaha daripada mahasiswa..Luar biasa.. Ada sebuah wejangan dari Aa Gym mengenai Tips menjadi pengusaha sukses yang akan selalu saya ingat.
"Kalau kita mau sukses,  Kunci pertama adalah JUJUR. Dengan bermodalkan kejujuran, orang akan percaya kepada kita.  Kedua, PROFESSIONAL. Kita harus cakap, sehingga siapapun yang memerlukan kita merasa puas dengan yang kita kerjakan.  Ketiga, INNOVATIF. Artinya, kita harus mampu menciptakan sesuatu yang baru, jangan hanya menjiplak atau meniru yang sudah ada."

Menurut Aa Gym, ada 5 hal yang harus dimiliki oleh entrepreneur :
Motivasi bisnis
Setiap orang pasti memiliki hasrat untuk menjadi manusia yang sukses. Banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mencapai kesuksesan. Salahsatu jalan tersebut adalah dengan menjadi entrepreneur atau mencoba untuk berbisnis. Motivasi orang untuk terjun ke dunia bisnis pun bermacam-macam, ada yang karena himpitan ekonomi sehingga menuntut dia untuk bisa bertahan hidup dan membuka usaha sendirilah yang dianggap bisa memberikan solusi. Ada lagi orang yang ingin cepat kaya dan tidak ingin menjadi beban orang lain lantas ia mencoba untuk berbisnis untuk membangun kemandirian ekonominya sendiri. Ada lagi yang melakukan bisnis sebagai pelampiasan hobinya, misal saja ada orang yang memiliki hobi membaca dan menulis lantas ia mencoba untuk menekuni bisnis di bidang perbukuan dan tulis-menulis. Mungkin masih ada lagi motif-motif yang lain. Satu hal yang pasti, motivasi bisnis yang dimiliki harus berorientasi pada tujuan akhir yang jelas dan memiliki kemaslahatan bagi sesama manusia.

Modal dasar entrepreneur
Sebagian orang mungkin masih berpikir bahwa untuk membangun bisnis yang besar harus diawali dengan modal yang besar pula. Tidak jarang juga orang yang kini telah mencapai taraf kemapanan dalam berbisnis tanpa diawali dengan modal yang besar, bahkan hanya berbekal kartu nama dan katalog yang ia tawarkan kepada konsumen-konsumennya.
Memulai berbisnis tidak identik dengan seberapa besar modal yang dimiliki, tapi sangat erat kaitannya dengan modal yang berupa kegigihan dan mental keberanian untuk mencoba. Sebenarnya dalam setiap diri manusia itu ada jiwa entrepreneur, Allah telah menganugerahi akal dan hati kepada manusia untuk dipergunakan sebaik mungkin. Oleh karena itu, manusia dipilih untuk menjadi khalifah di muka bumi.

Miliki Idola entrepreneur
Jika kita tanyakan pada orang-orang yang telah sukses, sebenarnya kesuksesan yang mereka raih pun merupakan buah dari inspirasi orang-orang yang mereka idolakan. Aa Gym misalnya, idola (panutan) beliau bukanlah orang yang jauh keberadaannya, bukan juga orang di luaran sana. Idola beliau tidak lain adalah adik beliau sendiri. Melihat kondisi sang adik yang diberi keterbatasan oleh Allah, tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap istiqomah dalam beribadah. Ketika panggilan adzan pun, tidak menyurutkan langkahnya untuk tetap mendatangi masjid untuk sholat berjamaah.
Pernah pada suatu ketika, adik Aa Gym menangis sewaktu melihat ikan-ikan di kolam rumahnya. Hal yang membuat ia menangis adalah betapa besarnya kuasa Allah terhadap makhluk-makhluk ciptaanNya. Ikan-ikan itu diciptakan dengan berbagai warna dan bentuk dan selalu berdzikir kepada Allah. Walaupun diberi keterbatasan secara fisik, tetapi hati beliau tetap peka terhadap hal-hal yang kecil, hati beliau hidup dan selalu diisi dengan dzikrullah. Itulah yang membuat Aa Gym sampai berguru kepada adiknya sendiri.

Miliki sikap profesional
Sikap yang ditanamkan Aa Gym adalah jujur, kreatif, dan inovatif. Berkaca pada kehidupan Rasulullah saw, ketika beliau masih berusia 25 tahun, beliau sudah mendapat gelar al-amin dari masyarakatnya. Sifat jujurnya telah mengantarkan beliau pada tumbuhnya kepercayaan masyarakat. Bahkan Siti Khadijah r.a pun sampai menitipkan barang dagangannya pada beliau saw.
Dalam berbisnis, permintaan pasar akan dipengaruhi juga oleh packaging dari produk kita. Jika tidak kreatif dalam menghadapi persaingan ini, bisa-bisa usaha kita tidak akan dilirik orang lagi. Masyarakat akan cenderung bosan jika tidak ada sesuatu hal yang baru dan akan beralih kepada sesuatu yang dianggapnya memiliki nilai jual lebih. Sikap kreatif selalu dituntu dalam era globalisasi ini.
Dalam dunia bisnis, kita pun dituntut untuk bisa menghasilkan ide yang baru dan masih fresh. Peniruan terhadap suatu produk dan pelayanan sudah makin marak hanya saja ditempeli dengan label yang berbeda. Masyarakat pun sudah bisa menilai mana produk yang orisinil dan mana yang merupakan jiplakan dari produk yang lain. Pada akhirnya, pebisnis yang selalu memiliki ide segar lah yang akan terus mengembangkan produknya dan mendapat tempat di hati masyarakat.

Kembangkan sikap kepemimpinan
Pemimpin berarti bisa menjadi pengaruh bagi orang lain, setiap kita adalah pemimpin berarti kita pun bisa menjadi pengaruh bagi orang lain. Rasulullah saw telah belajar kepemimpinan ketika beliau masih sangat muda, beliau mendapat tugas untuk menggembala kambing. menggembalakan kambing lebih sulit ketimbang berinteraksi dengan manusia, dari situ bisa didapat filosofi bahwa untuk menjadi pemimpin yang tangguh harus diawali dari hal-hal yang kecil. Bahkan menurut Michael H. Hart yang merupakan orang non-muslim, Rasulullah saw merupakan orang yang menjadi nomor satu dalam daftar orang yang paling berpengaruh di dunia.
Sebagai mahasiswa tentu kita pun bisa berlatih kepemimpinan dalam berorganisasi. Berlatih tentang manajemen waktu sehingga kita bisa mengatur prioritas dalam hidup. Berlatih tentang manajemen orang sehingga kita bisa memahami karakter dari teman-teman kita. Mengasah empati kita terhadap sesama, ketika teman kita sedang membutuhkan bantuan maka kita pun tergerakkan untuk bisa membantu.
Keuntungan bisnis menurut Aa Gym adalah ketika bisnis yang dilakukan ada di jalan Allah, bisnis kita jadi amal shaleh yang disukai Allah, dan menjadi jalan mendekat kepada-Nya. Nama baik kita terjaga, bahkan menjadi personal guarantie. Dengan berbisnis ilmu kita semakin bertambah, pengalaman dan wawasan semakin luas, bertambahnya saudara dan tersambungnya silaturahim, dan dengan bisnis kita bisa saling memberdayakan potensi sesama sehingga semakin banyak orang yang merasa beruntung

Temukan kisah-kisah inspiratif lainnya di web ini